MANTEN JAWA ; SRIE & DHIKA

Minggu, 17 Februari 2013 @ Aula Mesjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin

Image

Acara resepsi pernikahan minggu ini cukup berbeda. Bukan cuman karena sebelum resepsi, dilangsungkan acara akad nikah terlebih dahulu ditempat yang sama, tetapi juga karena resepsi kali ini dilaksanakan dengan memakai adat jawa. Resepsi pernikahan yang cukup menarik karena prosesi adat jawa ini cukup panjang susunan acaranya dan memakan waktu kurang lebih satu jam.

Mempelai yang mengikrarkan janji suci sebagai sepasang suami-istri setelah melalui masa kebersamaan (baca ; pacaran) selama kurang lebih enam tahun dan sama-sama berasal dari tanah jawa ini :Image

** SRIE TARWANTI, M.Psi (Puteri tercinta pasangan ; Bp. TUMIRAN & Ibu TUGIYEM) 

** M. ANDHIKA PURIAJI, ST (Putera tercinta pasangan ; Bp. Ir. H. PURWANTO & Ibu   Hj. IIN YULIASTUTIK)

Didampingi oleh kedua orang tua masing-masing, kedua mempelai dinikahkan langsung oleh Kepala KUA Kota Banjarmasin. Dengan kemantapan hati dan pancaran cinta yang besar kepada pasangannya, Dhika dengan lancar mengucapkan Ijab Qabul tanpa pengulangan. Cukup sekali. Ugh, pastinya itu sangat melegakan sang mempelai wanita, Srie, yang terus tersenyum sepanjang acara akad nikah. ImageKelar akad nikah, kedua mempelai langsung ganti busana untuk resepsi. Walaupun kedua mempelai tidak memakai busana pengantin adat jawa tetapi mengenakan kebaya modern, tapi masih tampak aksen jawanya terutama busana pengantin pria.

Ketika kedua mempelai dan orang tua sudah siap untuk kembali ke ruang resepsi, maka prosesi penyambutan kedatangan mempelai dan orang tua dengan adat jawa pun telah dipersiapkan.

ImageDan ini adalah urutan tata cara prosesi penyambutan mempelai dalam tradisi adat jawa sesuai yang telah dilaksanakan pada resepsi kemaren :

*PANGGIH*

Prosesi ini diawali dengan acara PANGGIH atau temu manten di mana kedua mempelai dipertemukan. Diringi oleh gending kebo giro, mempelai wanita didampingi oleh kedua orang tua dipertemukan dengan mempelai pria sudah menunggu di depan pintu masuk gedung resepsi tapi didampingi oleh keluarga sepuh. Menurut adatnya sih, memang pada acara panggih ini, mempelai pria tidak didampingi oleh orang tua. Kenapa begitu ?? Hmm…gugling ajah yak :)

*LEMPAR SURUH (SIRIH)*

Ketika kedua mempelai ; Srie dan Dhika sudah berada dalam jarak yang cukup dekat dan berhadapan, mereka dipandu untuk saling melempar suruh/sirih yang diikat dengan benang. Maknanya, kedua mempelai membulatkan tekadnya atau niat mereka untuk membangun mahligai rumah tangga bagaikan membulatkan gulungan daun sirih. Niat yang sama itu menjadikan mereka terikat janji luhur untuk hidup bersama, mereka mengikat janji dengan ikatan benang pada gulungan daun sirih.

*INJAK TELUR*

Didepan kedua mempelai sudah disiapkan beberapa peralatan untuk prosesi injak telur. Dimana hal ini merupakan bagian yang cukup penting dari deretan prosesi yang akan dilaksanakan.

Pada prosesi ini, mempelai pria, Dhika menginjak telur dengan kaki kanan sampai telurnya pecah mengotori kakinya. Sambil menginjak itu mempelai pria membulatkan niatnya untuk ‘ngayani, ngayemi, ngayomi’ (=mencukupi, membahagiakan dan melidungi) pasangannya sebab sadar bahwa tindakannya mengawini pasangannya adalah merusak status keperawanannya yang tidak mungkin pulih kembali lagi bagaikan pecahnya telor, karena itu bertekad: berani merusak tentu harus berani membangun dengan ‘ngayani, ngayemi, ngayomi’.

Image

Lalu, mempelai wanita, Srie, berjongkok membasuh kaki Dhika yang kotor tadi dengan air yang disediakan kemudian melapnya sampai kering, saat itu dia menyadarkan dirinya akan tugasnya, yaitu berbakti pada suami, berbakti itu terkadang berat, boleh jadi suatu ketika hal menjijikkan macam membasuh kaki kotor akan dijalani.

Setelah kaki sang mempelai pria sudah bersih dan memakai lagi selopnya, lalu ia membimbing mempelai wanita berdiri sejajar di samping kirinya, ini disebut ‘lantingan‘. Saat itu mempelai pria menyadarkan dirinya bahwa harkat, martabat dan derajat pasangannya itu sejajar, setara dengan dirinya. Istilah sekarang disebut ‘kesetaraan gender‘.

Hmm….benar-benar penuh makna yang sangat dalam dan terasa sakral sekali prosesi ini. Gak tau kenapa, saya tiba-tiba merinding saja ketika mengikuti dan mendokumentasikan prosesi ini. Mungkin karena dulu pernah pengen banget punya acara kayak begini tapi gagal melulu sama cowok jawa, hihihi…

*SINDURAN*

                                                      ImageSetelah kedua mempelai berdiri sejajar, berdampingan, prosesi dilanjutkan dengan istilah Sinduran, yaitu ; Ibunda mempelai wanita, me’nyingeb’kan selendang sindur ke punggung kedua mempelai, singeb artinya selimut, kedua ujungnya dipegang oleh sang ayah yang kemudian ‘menyeret’ membimbingnya menuju kursi pelaminan, sedang sang ibu meletakkan kedua tangannya di punggung kedua mempelai seperti mendorong.

Makna dari prosesi ayahanda ‘menyeret’ membimbing kedua mempelai ini menyadarkan kedua mempelai untuk mengarahkan hak hubungan suami istri itu kepada nilai-nilai luhur (=akhlakul karimah). Sedang ibunda yang ‘mendorong’ punggung mereka sebagai isyarat bahwa orang tua selalu memberi dukungan moral.

Sindur artinya anugerah air kehidupan, yaitu kehidupan dalam hubungan suami istri. Memilih warna dari selendang sindur ini tidak boleh sembarangan karena itulah diperingatkan dengan warna selendang sindur yang merah di tengahnya, sedang warna putih di tepinya melambangkan air kehidupan itu. *sumber ; blog panatacara kampong*

Yang menarik pada prosesi ini sebelum kedua orang tua Srie mengantarkan kedua mempelai menuju pelaminan, dipersembahkan atraksi tari seorang lelaki yang berperan layaknya Gator Kaca. Dan Gatot Kaca ini menari sambil berjalan hingga ke pelaminan, seolah-olah mengamankan jalur yang dilalui kedua mempelai yang tengah melangkah menuju pelaminan.

Image

Prosesi tarian ini dinamakan Prosesi Cucuk Lampah atau pembuka jalan ini dimaksudkan sebagai prosesi penolak bala untuk mengusir semua gangguan dalam wujud apa pun, terutama roh jahat dan hawa buruk yang dapat mengganggu jalannya pahargyan (resepsi). Prosesi ini dilakukan di sepanjang jalur yang akan dilalui oleh pengantin.

Dibeberapa blog yang saya browsing menyebutkan bahwa prosesi tarian ini sudah cukup langka dan sudah jarang dilakukan oleh banyak pengantin. *sumber : blog Semarang Wedding*

*METHUK BESAN*

Prosesi ini adalah penjemputan besan (orang tua mempelai pria) oleh kedua orang tua mempelai wanita. Jadi setelah kedua mempelai sampai dan bersanding di pelaminan, maka selanjutnya, orang tua Srie menjemput kedua orang tua Dhika di depan pintu masuk gedung resepsi kemudian berjalan beriringan menuju pelaminan dan duduk di kursi yang telah disediakan untuk ayahanda-ibunda mendampingi mempelai di pelaminan.

 *TIMBANGAN*

Prosesi timbangan ini bermakna bahwa setelah pernikahan dan memasuki jenjang rumah tangga, kedua orang tua tak lagi membedakan antara anak dan menantu, keduanya merupakan anak sendiri.

Pada prosesi timbangan ini, kedua mempelai duduk dipangku di lutut sang ayah. Pada saat itu sang ayah menimbang berat mereka dengan hatinya, sudah sama belum kasih sayangnya terhadap mereka, yang satu anak yang satu menantu, lalu sang ibu bertanya, “awrat pundi Pak?” (=berat mana Pak?). Lalu sang ayah menjawab, “ah, padha wae” (=ah, sama saja).

*KACAR-KUCUR*

Pada prosesi ini, mempelai pria menuangkan ‘tampa kaya’ dari lipatan ‘klasa bangka’ ke pangkuan mempelai wanita yang dialasi selembar ‘kacu gembaya’ untuk membungkusnya.

Image

Mempelai wanita kemudian menyerahkan bungkusan tersebut kepada ibunya. ‘Tampa kaya’ biasanya berupa beras kuning disertai biji-bijian dan bumbu dapur seperti kacang, kedelai, bawang merah, bawang putih, cabai, dsb. Artinya pria memberikan nafkah pada istrinya. ‘Klasa bangka’ adalah tikar pandan kecil, umumnya diganti dengan kain sindur yang dilipat. ‘Kacu gembaya’ adalah saputangan khusus yang tengahnya berbentuk kantung. Dalam rumah tangga istri bertugas memanage ekonomi rumah tangga, dalam memanage itu mesti ingat orang tuanya, karena itulah mempelai putri menyerahkan bungkusan pada ibunya. *sumber ; blog panatacara kampung*

*WALIMAHAN*

Prosesi berikutnya diistilahkan dengan walimahan. Tetapi dari beberapa sumber di internet tentang prosesi pernikahan adat jawa, hal ini juga diistilahkan dengan Dulangan & Ngunjuk Tirta Wening, yaitu : mempelai pria menyuapi mempelai wanita dengan sekepal nasi dan sedikit lauk pauk sebagai ibarat berperan sebagai guru pembimbing dalam rumah tangga lalu bergantian mempelai wanita yang menyuapi mempelai pria. Image

Kemudian, kedua mempelai saling memberi minum dengan air putih. Bermakna harapan akan kejernihan hati di dalam berumah tangga sebagaimana jernihnya air putih.

Istilah lain dari prosesi ini dinamakan Dhahar Klimah karena peristiwa makan yang pertama kali setelah membangun bahtera rumah tangga.

*SUNGKEMAN*

Image

Kedamaian dan kebahagiaan hidup yang hakiki akan diberikan oleh Allah kepada setiap manusia, sangat tergantung kepada ridho dan ketulusan hati kedua orangtua. Dengan kerendahan hati dan segala pengabdian, kedua mempelai memohon doa dan restu kepada Ayahanda dan Ibunda dengan mehaturkan sembah sujud atau sungkem kepada kedua orang tua mempelai pria dan kedua orang tua mempelai wanita sebagai  tanda bakti dan rasa terimakasin atas bimbingan dari lahir sampai kedua mempelai menikah dan berumahtangga. Selain itu kedua pengantin mohon doa restu dalam membangun kehidupan rumah tangga yang baru, agar selalu mendapatkan berkat dan rahmat dari Allah SWT.

*BAGI ROJO KOYO*

Ini adalah bagian akhir dari seluruh rangkaian prosesi Panggih-nya mempelai Srie & Dhika. Bisa jadi sebenarnya ini adalah prosesi rame-rame aja, karena pada prosesi ini, orang tua mempelai membagikan atau melemparkan pisang raja yang dibawa oleh mempelai kepada para tamu undangan.Image

Sebelum prosesi ini dimulai, para undangan dipersilakan untuk berpartisipasi berkumpul didepan pelaminan untuk memperebutkan lemparan pisang yang dilemparkan oleh ibunda dan ayahanda mempelai. Konon katanya, siapa yang berhasil mendapatkan lemparan pisang ini, akan memperoleh limpahan berkah dan rejeki. Nah, bagi yang belum menikah, katanya kalo berhasil mendapatkan lemparan pisang ini maka insyaallah akan segera nyusul kedua mempelai menjadi pasangan pengantin berikutnya.

Hmm….anyway nih yaaa…saya  gak ikutan rebutan sih, malah asik-asik aja mendokumentasikan prosesi ini. Eh eh eh eh…tau-tau aja gitu ada lemparan pisang nyasar dan jatuh tepat di depan saya, hohohoho….langsung deh saya ambil dengan senang hati, hahahaha…

Upsss….panjang juga ulasan resepsi kali ini, dan maaps banget deh laporan pandangan mata ini baru bisa diposting seminggu setelah resepsi berlangsung. Butuh waktu dan mood bagus buat bikin ulasan lengkap prosesi acara panggih ini, resepsi pernikahan Srie & Dhika. Secara juga saiahnya agak-agak sibuk gituh deh *modus pembenaran*.

Seneng deh tulisan kali ini juga bisa dilengkapi dengan banyak foto disetiap prosesinya. Secara yaaaaaaa….edisi Sunday Job kali ini, saya berasa kayak makan gaji buta, hanya bersuara sebentar dan lebih banyak jepret sana jepret sini.

Gimana enggak, prosesi panggih ini dipandu oleh MC khusus atau yang disebut juga Dalang Panggih dengan menggunakan bahasa jawa kromo inggil atau bahasa jawa yang halus banget. Nah, secara kan saya adalah orang banjar asli. Jangankan bahasa jawa halus, bahasa jawa gak halus aja saya nggak ngerti, hikss…That’s why lah ya, saya juga harus browsing sana sini demi untuk melengkapi tulisan ini bukan hanya sekedar kasih tau doang tapi berharap informasi tulisan ini juga mudah-mudahan bisa menambah pengetahuan buat yang baca.

Satu hal ; dari dulu pengen banget belajar jadi MC acara pernikahan adat jawa seperti ini dan bisa berbahasa jawa dengan baik dan halus. Kalo aja di Banjarmasin ini ada yang buka kursus ngemsi bahasa jawa…

Betewe…akhirnya dapet juga foto paling akhir seluruh crew Youngky Wedding Organizer bareng mempelai ; Srie & Dhika.

Image**wedding decoration & make up by ; Youngky Salon & WO**

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s